Oleh: Fahmi Syarifuddin*
Tujuh belas Agustus tahun 1945 adalah hari ketika bangsa Indonesia meraih kemerdekaanya setelah sekian lama terbelenggu oleh imperialisme yang terus-menerus mengekang kebebasan. Tiga setengah abad bangsa ini tak mampu untuk memegang kendali penuh atas daulatnya sendiri. Sejarah mencatat bahwa setidaknya ada empat bangsa asing yang pernah menjajah bangsa ini. Namun biarpun bangsa kita mengalami pergatian penjajah, itu ternyata tidak membuat bangsa ini semakin maju dan berkembang. Ini terbukti dari fakta sejarah bahwasannya rakyat pribumi dibiarkan bodoh dan terbelakang.
Setelah masa tiga setengah abad itu akhirnya bangsa ini menemukan titik terang dari permasalahan yang turun temurun ini. Muncul orang-orang terpelajar yang mampu menjadi motor penggerak bagi usaha kemerdekaan bangsa Indonesia. Mereka para kaum terpelajar sadar akan perannya sebagai garda depan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejarah membuktikan bahwa Soekarno dkk lewat BPUPKI dan PPKI ternyata mampu membawa bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, sehingga kita semua ingat bahwa tanggal tujuh belas Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan kita.
Orang-orang terpelajar itu membuktikan bahwa peran pendidikan dalam menentukan arah gerak peradaban sebuah bangsa itu sangatlah penting. Di peradaban-peradaban manusia selalu ditopang oleh pendidikan, dimana pendidikan adalah ujung tombak bagi perkembangan peradaban sebuah bangsa. Karya-karya peradaban manusia itu selalu merupakan output dari proses pendidikan, seperti: ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, sains, dan teori-teori social. Sebuah contoh dari peran pendidikan pada sebuah peradaban bangsa adalah pada saat terjadi revolusi industri yang terjadi di Inggris pada akhir abad 18 dan awal abad 19. Revolusi industri ini diakibatkan dari lompatan teknologi yang terjadi. Ketika itu mesin uap yang diperkenalkan oleh James Watt akhirnya mampu menggantikan teknologi kuno yang biasa memakai tenaga-tenaga makhluk hidup untuk menjalankan dan mengerjakan proses-proses produksi. Sebenarnya faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya Revolusi Industri adalah terjadinya revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16 dengan munculnya para ilmuwan seperti Francis Bacon, Rene Decartes, Galileo Galilei serta adanya pengembangan riset dan penelitian dengan pendirian lembaga riset. Dan hasil dari revolusi industri yang terjadi di Inggris pada akhir abad 18 dan awal abad 19 itu dapkanya masih bisa kita rasakan hingga kini, yaitu kita kini tahu tentang ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan dari ilmu tersebut. Contoh pada revolusi industri ini mebuktikan bahwa pendidikan memegang peran sentral bagi perkembangan peradaban sebuah bangsa bahkan perkembangan peradaban manusia secara luas. Dan hal inilah yang telah dibuktikan oleh parafounding fathers bangsa kita dimana ia mampu untuk memerdekakan bangsanya dan meletakkan sebuah cita-cita luhur bagi bangsa ini di awal berdirinya bangsa ini.
Namun ketika kita beribicara soal kemerdekaan yang digawangi oleh kaum-kaum terpelajar itu tentunya kita tidak akan lepas dari cita-cita kemerdekaan itu. Seperti yang disebutkan dalam pemukaan UUD 45’ bahwa kemerdekaan itu bertujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehipan bangsa, dan untuk memajukan kesejahteraan umum sata berperan dalam perdamaian dunia. Dan ketika kita refleksikan cita-cita itu ke kondisi Indonesia saat ini, tentunya kita akan banyak mendapatkan kecewaan. Permasalahan-permasalahan klasik seperti kemiskinan, pengangguran, kelaparan, dan korupsi masih menghantui bangsa ini. Proses panjang selama hampir enam puluah lima tahun Indonesia merdeka ternyata masih belum mampu untuk menanggulangi permasalahan itu dan masih belum mampu pula mewujudkan cita-cita bangsa. Hal itu terbukti ketika kita mendengar permasalahan seperti kasus bank century, mafia kasus, kenaikan harga sembako, tabung gas yang sering meledak, kelaparan, kenaikan TDL, dan biaya pendidikan yang tinggi. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono sekarang dinilai kurang sigap dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan tadi, dan cenderung pasif dalam menyikapinya. Ketika ada banyak nyawa melayang akibat dari ledakan tabung gas, pemerintah tidak segera menangani itu bahkan cenderung membiarkan rakyanya terbunuh oleh tabung-tabung gas. Kasus bank century pun dibiarkan mengambang begitu saja, tak jelas arah penyelesaiannya kemana. Kenaikan harga sembako yang sedang marak sekarang juga hanya disikapi dalam tangan yang dingin dan enggan bergerak untuk segera meringkus harga-harga yang terus naik itu. Tapi hal ini malah diperparah oleh para intelektual-intelektual dan lembaga pendidikan yang menaunginya yang bersikap dingin dan acuh tak acuh. Mereka hanya sibuk dengan laboratorium, perpustakaan, ruang kelas, penelitian, dan segudang teori using yang hanya mengawang-awang jauh dari rakyat.
Pendidikan Indonesia ternyata tidak mampu berbuat banyak pada bangsa ini. Lembaga pendidikan yang harusnya dekat dengan permasalahan rakyat ternyata membatasi dirinya hanya pada ukuran-ukuran formal pada dunia pendidikan kita. Begitu banyak sekolah, beigtu banyak unveristas dan institute yang ada di Indonesia. Tapi mengapa dengan begitu banyaknya kuantitas lembaga pendidikan di Indonesia itu malah masih belum mampu mejadi motor penggerak peradaban? Peran pendidikan di Indonesia kini diredusir hanya untuk mencetak lulusan terbaik yang siap unutk menjadi tenaga kerja handalyang siap untuk bersaing. Bukan malah mempersiapkan segudang senjata guna melawan kemiskinan, kelaparan, korupsi, dan permasalahan bangsa yang lain. Menurut salah satu filsuf pendidikan, Paulo Freire mengatakan bahwa pendidikan yang seperti ini itu mirip dengan gaya yang dilakukan oleh bank dimana para subjek pendidikan hanya ditransfer pengetahuan tanpa dituntun untuk memahami realitas sekitarnya.
Pemahaman tentang pendidikan di Indonesia pun masih salah kaprah. Rakyat menganggap bahwa pendidikan itu hanya ada di sekolah/lembaga pendidikan, bukannya pada lingkungan masyarakat itu sendiri. Ini juga diperparah lagi dengan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pendidikan itu hanya terfokus pada lembaga pendidikan saja. Hal ini membuat pendidikan menjadi ekslusif, dan cenderung terbatas. apalagi jika biaya pendidikan itu mahal dan susah dijangkau, otomatis ini membuat orang miskin tidak bisa sekolah. Dan ternyata ini terbukti bahwa biaya pendidikan di Indonesia semakin hari semakin mahal yang tentunya makin mempersulit orang miskin untuk mengenyam pendidikan.
Pendidikan itu harus partisipatif, terbuka, dan mudah diakses. Yaitu pertama, pendidikan itu harus pertisipatif yaitu pendidikan itu harus ikut berpartisipasi dalam kehidupan rakyat dan rakyat pun harus ikut berpartisipasi dalam proses pendidikan. Pendidikan harus dipandang sebagai sebuah proses yang memajukan dan mampu menyelesaikan permasalahan rakyat dan tidak malah terjebak pada formalitas sebuah lembaga pendidikan. Benteng pemisah antara intelektual dan lembaga pendidikan dengan rakyat, harus segera dihancurkan. Agar memang pendidikan mendapatkan rohnya kembali yaitu sebagai ujung tombak proses peradaban manusia. Kedua, pendidikan itu haruslah terbuka yaitu pendidikan tidak boleh lagi di eksklusifkan dalam sebuah lembaga pendidikan formal. Tetapi pendidikan haruslah dipahami bukan hanya ada pada lembaga pendidikan formal. Tetapi pendidikan itu berasal dari rakyat itu sendiri dimana rakyatlah yang memiliki pendidikan. Gencarkan sector pendidikan informal dan non formal agar pendidikan ini dekat dengan rakyat. Yang ke tiga pendidikan haruslah mudah diakses. Melihat realita bahwa biaya pendidikan semakin mahal dan tak terjangkau oleh rakyat miskin maka perlu ada suatau kemudahan dalam mengakses pendidikan. maka dari ketiga hal tersebut itulah sebuah konsep pendidikan yang memang mampu berperan sebagaimana mestinya dalam mengawal kemerdekaan bangsa ini. Tak ada kemerdekaan hakiki dalam sebuah bangsa ketika proses-proses pendidikan dalam bangsa tersebut dipasung dan dibiaskan.
*penulis adalah mahasiswa fakultas MIPA Universitas Padjadjaran

