LAWAN..
LAWAN..
LAWAN HANCURKAN !!!
teriak seorang yang sedang gelisah hatinya
meneriakkan protes keras pada penguasa
sedangkan di sudut lain :
SAUDARA-SAUDARA,
MARI KITA TINGKATKAN PRODUKTIFITAS KITA
DEMI MEMBANGUN BANGSA DAN NEGARA INI
seru sang penguasa di anjungan mimbar
menghimbau rakyatnya agar melaksanakan wejangannya
dua kondisi yang berbeda, tapi intinya sama.
ya, teriakan ataupun seruan itu hanyalah sebuah bahasa kekuasaan
yang terucap oleh subjek yang menginginkan kekuasaan atas sesuatu.
bahasa kekuasaan yang terucap dari mulut mereka
seolah mengandung kebenaran, kemanusiaan, ataupun heroisme.
hingga tubuh kita mau untuk tergerak melaksanakan kata-kata itu.
maka suara-suara tersebut tidak lain adalah upaya untuk menguasai kita.
hubungan timbal balik antara subjek dan objek melalui rajutan kata-kata
tidak lain adalah hubungan kekuasaan antara mereka berdua
kekuasaan tidak hanya lahir dari keinginan subjek
tapi juga terkandung dalam objek itu sendiri
serta komunikasi/interaksi antara subjek dan objek
kritik terhadap kekuasaan yang menjadi counter dari hal di atas
pun tidak lain adalah kekuasaan baru yang lahir dari dialektika pemikiran
oleh karena itu diperlukan diperlukan komunikasi yang sehat dan berimbang
antara komunikator dan komunikan.
agar pergulatan yang sehat antara berbagai macam kekuasaan
mengeluarkan sebuah kesepahaman bersam



